A. Pengertian
Menurut Solso, & Maclin (2008) atensi
adalah pemusatan pikiran, dalam bentuk yang jernih dan gambling, terhadap
sejumlah objek simultan atau kelompok pikiran. Pemusatan (facalization)
kesadaran adalah initisari atensi. Atensi mengimplikasikan adanya pengabdian
objek-objek lain agar kita sanggup menangani objek-objek tertentu secara
efektif. Ketika kita membicarakan “atensi” dari sudut pandang para
psikolog kognitif masa kini, kita mengacu pada sebuah proses kognitif yang menyeleksi
informasi penting dari dunia di sekeliling kita (melalui pancaindera), sehingga
otak kita secara berlebihan dipenuhi oleh informasi yang tidak terbatas
jumlahnya. Selain itu juga disebutkan bahwa atensi adalah pemusatan upaya
mental pada peristiwa-peristiwa sensorik atau peristiwa-peristiwa mental.
Agar dapat mengolah informasi yang sedemikian
membanjir, manusia secara selektif memilih hanya sejumlah isyarat dan
mengabaikan stimuli yang lain. Pengalaman kita sehari-hari mengajari kita bahwa
kita memperhatikan sejumlah isyarat dari lingkungan kita lebih sering dari
isyarat yang lain, dan isyarat yang kita perhatikan tersebut umumnya lebih
lanjut oleh system kognitif, sedangkan isyarat yang diabaikan tidak mengalami
pemrosesan lebih lanjut. Mekanisme memusatkan diri pada stimuli tertentu dan
mengabaikan stimuli yang lain.
Lima isu
terkait atensi adalah sebagai berikut :
1. Kapasitas
pemrosesan dan selektivitas
Dapat memperhatikan sejumlah stimuli eksternal
dari dunia eksternal, namun kita tidak dapat memperhatikan seluruh stimuli yang
ada.
2. Kendali
Kita memiliki kendali terhadap pilihan
stimuli yang kita perhatikan.
3. Pemrosesan
otomatis
Sejumlah besar proses rutin yang telah
menjadi prosesyang sangat familiar sehingga memerlukan hanya sedikit atensi
sadar dan dapatdilakukan secara otomatis.
4. Neurosains kognitif
Otak dan dan sistem saraf pusat
(CNS “Central Nerveous System”) adalah pendukung anatomis bagi atensi,
sebagaimana kognisi.
5. Kesadaran
Atensi membawa peristiwa – peristiwa kealam
kesadaran. Salah satu alasan kita dapat memperhatikan secara
selektif adalah karena kemampuan kita untuk memproses informasi dibatasi
oleh kapasitas saluran (channel capac).
B.
Jenis Atensi
Perhatian dapat dibagi menjadi beberapa macam, hal
ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Sumadi Suryabrata, (1989:14) yaitu:
a.
Berdasarkan
intensitasnya, yaitu banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu
aktivitas atau pengalaman batin, maka dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Perhatian
intensif.
2. Perhatian
tidak intensif.
b.
Berdasarkan cara
timbulnya, perhatian dibedakan menjadi dua, yaitu;
1. Perhatian
spontan (perhatian tak-sekehendak, perhatian tak-sengaja), yaitu
perhatian yang timbul begitu saja, seakan-akan tanpa sengaja, terjadi tanpa
usaha.
2. Perhatian
sekehendak (perhatian sengaja), yakni perhatian yang timbul karena usaha atau
dengan kehendak.
c.
Berdasarkan luasnya
obyek yang dikenai perhatian, perhatian dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Perhatian
terpencar, yakni perhatian pada suatu saat dapat tertuju pada bermacam-macam
obyek.
2. Perhatian
terpusat, yaitu perhatian yang terpusat, hanya dapat tertuju pada obyek yang
sangat terbatas.
C.
Faktor
yang dapat menarik perhatian
Dalam
buku General psychology Gilliand A.R dan John J.B. Morgan dan S.M.
Steven(1935), dikemukakan faktor-faktor yang menarik perhatian, yaitu:
1.
Objective determinat of
attention, yaitu factor objektif yang dapat menentukan perhatian
seseorang, meliputi:
a.
Adanya stimulus yang
kuat yang dapat menarik perhatian.
b.
Adanya stimulus yang
kualitatif yang dapat menatik perhatian.
c.
Adanya stimulus yang
besar/luas yang dapat menarik perhatian.
d.
Adanya stimulus yang
berulang-ulang dapat menarik perhatian.
2.
Subjective
determinat, yaitu faktor subjektif yang dapat menentukan perhatian
seseorang, meliputi:
a.
Adanya stimulus yang
pembawaannya mengandung daya tarik.
b.
Adanya arti atau maksud
pada sesuatu dapat menimbulkan daya tarik.
c.
Ketidakpastian
menimbulkan daya tarik.
d.
Emosi yang tetap
(terbiasa) dapat menentukan daya tarik.
Selanjutnya
perhatian juga dipengaruhi secara umum antara lain sebagai berikut:
1.
Pembawaan
Adanya pembawaan tertentu yang
berhubungan dengan objek yang direaksi, maka sedikit atau banyak akan timbul
perhatian terhadap objek tertentu.
2.
Latihan dan kebiasaan
Meskipun dirasa tidak ada bakat
pembawaan tentang sesuatu bidang, tetapi karena hasil dari pada latihan/
kebiasaan, dapat menyebabkan mudah timbulnya perhatian terhadap bidang
tersebut.
3.
Kebutuhan
Adanya kebutuhan tentang sesuatu
memungkinkan timbulnya perhatian terhadap objek tersebut. Kebutuhan merupakan
dorongan, sedangjkan dorongan itu mempunyai tujuaan yang harus dicurahkan
kepadanya. Demi tercapainya sesuatu tujuaan, disamping perhatiaan juga perasaan
dan kemauan memberi dorongan yang tidak sedikit pengaruhnya.
4.
Kewajiban
Di dalam kewajiban terkandung
tanggung jawab yang harus dipenuhi, entah kewajiban itu cocok atau tidak,
menyenangkan atau tidak. Maka demi terlaksananya suatu tugas, apa yang menjadi
kewajibannya akan dijalankan dengan penuh perhatiaan.
5.
Keadaan jasmani
Sehat tidaknya jasmani, segar
tidaknya badan sangat mempengaruhi perhatian kita terhadap sesuatu objek.
6. Suasana
jiwa
Keadaan batin, perasaan, fantasi,
pikiran dan sebagainya sangat mempengaruhi perhatiaan kita, mungkin dapat
membantu juga dapat menghambat.
7. Suasana
di sekitar
Adanya bermacam perangsang disekitar
kita, seperti kegaduhan, keributan, kekacuan, temperatur, sosial ekonomi,
keindahan dan sebagainya dapat mempengaruhi perhatian kita.
8. Kuat
tidaknya perangsang dari objek itu sendiri
Berapa kuatnya perangsang yang
bersangkutan dengan objek perhatian sangat mempengaruhi perhatiaan kita.
D.
Informasi
yang dibutuhkan Pengguna Jalan
Jalan
yang berkeselamatan adalah suatu jalan yang didesain dan dioperasikan
sedemikian rupa sehingga jalan tersebut dapat menginformasikan, memperingatkan,
dan memandu pengemudi melewati suatu segmen jalan.
Suatu
jalan harus dapat memberikan informasi yang harus di dapat oleh pengguna jalan
seperti desain jalan berikut elemen-elemen jalan yang mudah dicerna sehingga
dapat membantu pengguna jalan mengetahui sistuasi dan kondisi segmen jalan
berikutnya. Selain itu rambu, marka, dan sinyal mampu menuntun pengguna
jalan untuk mengetahui situasi dan kondisi segmen jalan berikutnya. Rambu,
marka, dan sinyal mampu mengendalikan pengguna jalan untuk tetap pada jalurnya.
E.
Desain
Implementasi Atensi
Implementasi atensi di jalan pada dasarnya
dihubungkan dengan adanya rambu lalu lintas atau marka jalan sebagai tanda
jalan yaitu agar rambu tersebut bisa dilihat oleh pengguna jalan. Syarat agar
rambu bisa dilihat oleh pengguna jalan diantaranya :
1. Rambu
atau marka harus mudah dikenali oleh pengguna jalan karena rambu atau marka
berfungsi sebagai pendanda dari jalan yang akan kita lewati.
2. Rambu atau marka biasanya memiliki ukuran
(Dimensi) yang disesuaikan dengan kebutuhan karena sesuai dengan jarak pandang
pengemudi.
3. Rambu
atau marka memiliki warna yang terang agar mudah dilihat oleh pengguna jalan
4. Rambu
atau marka harus ditempatkan di tempat yang mudah dilihat oleh pengguna jalan
dan marka atau rambu tidak ditempatkan secara berdekatan.
Atensi
(Perhatian) di jalan memang harus dibutuhkan agar kita bisa selamat dalam hal
apapun. Atensi dalam berkendara dalam mematuhi segala tanda (marka dan rambu)
juga sangat dibutuhkan seperti yang dijelaskan pada syarat diatas agar kita
bisa terhindar dari kecelakaan yang dapat merugikan diri kita sendiri.
Atensi juga sangat diperlukan oleh pengendara kendaraan bermotor dijalan.
Menurut Cole and Jenkins, 1980) kebutuhan
pengendara mengenai kebuthan utama di jalan yang ada kaitannya dengan kontrol
lalu lintas yaitu :
-
Keterbacaan
(pesannya harus dapat dibaca)
-
Comprehensibility
(pesan harus dipahami dan bisa
dimengerti oleh pengendara)
-
Kredibilitas/Fakta (pesan harus dianggap
benar)
a. Conspicuity (Jelas)
Latar belakang/dasar warna
merupakan hal penting dalam marka atau rambu yang dipasang agar pengemudi kendaraan
bermotor bisa melihat tanda tersebut. Kejelasan suatu tanda atau marka bisa
dpengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :
-
Ukuran, tanda-tanda
(rambu dan marka) yang lebih besar akan lebih mencolok pengendara. Jadi akan
lebih bisa terlihat oleh pengendara
-
Kecerahan,
tanda-tanda yang terang akan lebih mencolok pengendara kendaraan bermotor.
-
Keberanian,
pemasangan tanda harus lebih besar dan lebih mencolok akan membuat pengendara mematuhi peraturan lalu lintas.
-
Kontras, kontras
yang tinggi pada tanda terutama kontras
kecerahan harus ada pada rambu atau marka tersebut agar pengendara dapat dengan
mudah mengenalinya
-
Kesederhanaan
visual, latar belakang yang sederhana membuat tanda lebih mencolok dan dengan
mudah dilihat dengan indra penglihatan oleh manusia.
- Eksentrisitas
sinyal, Tanda (Marka atau Rambu) tidak mungkin terdeteksi jika lebih dari dari
garis line yang sudah ditentukan. Karena semakin jauh maka jarak pandang juga
akan berkurang dan sulit mengenali tanda.
Ada sejumlah penerapan secara langsung dari
prinsip-prinsip ini yang mempengaruhi berbagai rekayasa lalu lintas dan praktik
keselamatan di jalan. ini termasuk :
Rekayasa Lalu
Lintas dan Manajemen
-
Pengaruh pada rambu
lalu lintas dan tata letak serta warna, ukuran, dan lokasi dari rembu tersebut
dipasang
-
Undang - undang
untuk mengendalikan iklan di pinggir jalan
-
Reflectorization
(Tinggi) tanda terutama tanda-tanda penunjuk arah
b.
Keterbacaan ( Rambu
bisa terbaca dengan jelas)
Sinyal visual yang terbaca
harus cukup detail di dalamnya dan cukup terlihat untuk memungkinkan pesan
untuk ditafsirkan dan mudah dipahami oleh pengendara kendaraan motor tersebut.
meningkatkan ukuran tanda akan
menambah jarak suatu tanda (marka dan rambu) agar dapat dibaca oleh pengendara dan
memberikan pengendara lebih banyak kesempatan untuk mengamati dan membaca tanda.
sehingga tanda tersebut perlu berisi banyak informasi dan perlu menjadi lebih
besar agar para pengendara tidak kebingunan untuk menemukan tanda tersebut.
Dari faktor diatas tentang penerapan atensi secara nyata bisa dijelaskan
bahwa atensi (Perhatian) di jalan memang harus
dibutuhkan agar kita bisa selamat dalam hal apapun. Atensi dalam berkendara
dalam mematuhi segala tanda (marka dan rambu) juga sangat dibutuhkan seperti
yang dijelaskan pada syarat diatas agar kita bisa terhindar dari kecelakaan
yang dapat merugikan diri kita sendiri.
Kesadaran mencakup perasaan tentang apa yang
disadari maupun isinya, yang darinya bisa kita gunakan untuk memfokuskan
atensi. Oleh karena itulah atensi dan kesadaran membentuk dua sistem
operasi yang kesannya tumpang tindih. Dahulu psikolog yakin atensi sama dengan
kesadaran, namun sekarang mereka menemukan bahwa sejumlah pemrosesan atensi
yang aktif terhadap pemrosesan indrawi, informasi yang diingat-ingat dan
informasi kognitif, bisa berjalan diluar kesadaran kita.
Contoh: pada saat ini anda dapat menyetir sambil
secara sadar melakukan aktivitas yang lain, misal mengobrol, meskipun hal ini
tidak dapat dilakukan jika anda tidak sadar sepenuhnya. Namun demikian,
keuntungan yang diperoleh dari atensi akan semakin besar kalau kita menjadikannya proses-proses yang disadari. Peneraapan atensi lainnya ketika pengendara sepeda
maupun sepeda motor meperhatikan suatu rambu di jalan.
Gambar 1.
Penerapan atensi di jalan
Gambar diatas juga menunjukan
bentuk atensi yang memerlukan tingkat kefokusan yang tinggi. Rambu atau marka
pada gambar 1 juga telah memenuhi syarat seperti terang, kecerahan, dan lain –
lain. Dalam hal ini, rambu dan marka (tanda) juga bisa membantu dalam bidang
keselamatan. Atensi (perhatian) memang harus ditanamkan pada setiap pengendara
kendaraan agar keselamatan bisa dilaksanakan pada segala lini. Pembentukan
karakter dan sosialisasi mengenai pembentukan karakter dalam berkendara dalam
mematuhi rambu lalu lintas memang sangat diperlukan dalam semua lini agar tujuan
transportasi yang efektif dan berkeselamatan bisa terwujud.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar